16/01/2025
Swedia Anggarkan Rp 1,7 Triliun untuk Kembalikan Sistem Pendidikan dari Digital ke Buku Cetak
Pemerintah Swedia memutuskan untuk mengubah sistem pendidikan dengan kembali menggunakan buku-buku cetak sebagai media pembelajaran.
Keputusan ini dilakukan setelah 15 tahun lamanya sistem pendidikan di Swedia menggunakan perangkat digital seperti komputer dan tablet.
Awalnya, Swedia optimis bahwa penggunaan perangkat digital bisa mengubah sistem pendidikan menjadi lebih mudah diakses dan mempersiapkan para siswa menuju ke tuntutan digital pada abad ke-21.
Pada 2009, negara itu pun memutuskan untuk mengganti seluruh buku cetak dengan dengan perangkat digital sebagai media pembelajaran.
Faktanya, transisi pendidikan itu tidak memberikan hasil yang diharapkan. Beberapa orangtua mengaku menghadapi tantangan, salah satunya adalah keterampilan dasar berupa membaca dan menulis para siswa yang semakin menurun.
Pendidik (guru) juga menyadari bahwa siswa kesulitan berkonsentrasi dan mengingat informasi saat menggunakan layar digital ketimbang dengan metode pembelajaran berbasis buku cetak.
---
• Perangkat digital kurangi fokus siswa
Meski menghadapi kegagalan transisi pendidikan yang nyata, Swedia masih mempertahankan peringkat tinggi dalam standar pendidikan global.
Namun, jika dibandingkan negara lainnya, keterampilan siswa di Swedia mengalami penurunan. Data dari Studi Kemajuan dalam Literasi Membaca Internasional (PIRLS) menunjukkan bahwa keterampilan siswa di Swedia terus menurun pada 2016-2021.
Pada 2021, siswa kelas 4 di Swedia memperoleh rata-rata 544 poin, turun dari rata-rata 555 di tahun 2016.
Penelitian oleh Dewan Riset Swedia untuk Kesehatan, Kehidupan Kerja, dan Kesejahteraan (Forte) menemukan bahwa pembelajaran menggunakan teknologi digital dengan menatap layar berjam-jam dapat menghambat kemampuan siswa untuk lebih fokus dalam memproses informasi yang kompleks.
"Dampak layar dengan lampu latar sangat berpengaruh (merusak) pada konsentrasi dan pemahaman ," kata pakar pendidikan di Institut Pendidikan Nasional Swedia, Anna Lindstrom, dikutip dari The Universal.
Dia juga memaparkan bahwa siswa sering kali menggunakan perangkat teknologi itu untuk bermain game atau menjelajahi internet selama berjam-jam di sekolah.
Kebiasaan itu, mengurangi keterlibatan siswa di kelas.
Banyak orangtua yang menyuarakan kekhawatiran mereka terkait konsekuensi yang tidak diinginkan akibat transisi ke teknologi digital ini. “Saya melihat anak saya terganggu oleh game dan media sosial selama jam sekolah, yang memengaruhi prestasi akademis mereka," kata seorang ibu, Maria Svensson.
---
• Buku fisik penting untuk pembelajaran siswa
Wacana Pemerintah Swedia kembali menggunakan buku cetak sebagai media pembelajaran sudah mencuat sejak 2022 silam.
Pada saat itu, Menteri Sekolah Swedia, Lotta Edholm mengatakan, siswa Swedia membutuhkan lebih banyak buku pelajaran.
"Buku fisik penting untuk pembelajaran siswa," ujarnya, dikutip dari The Guardian.
Edholm kemudian mengumumkan bahwa pemerintah ingin membatalkan keputusan badan nasional untuk pendidikan yang mewajibkan penggunaan perangkat digital di prasekolah pada Agustus 2023.
Pemerintah Swedia bahkan berencana untuk melangkah lebih jauh dengan mengakhiri pembelajaran digital untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun.
Senada dengan Edholm, Institut Karolinska Swedia juga menunjukkan bukti ilmiah bahwa perangkat digital justru merusak pembelajaran.
Mereka setuju bahwa pengembalian buku cetak sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan dasar siswa.
“Kami percaya bahwa fokusnya harus kembali pada perolehan pengetahuan melalui buku teks cetak dan keahlian guru, daripada memperoleh pengetahuan terutama dari sumber digital yang tersedia secara bebas yang belum diverifikasi keakuratannya.”
---
• Swedia anggarkan Rp 1,7 triliun untuk buku cetak
Menyikapi penurunan keterampilan siswa, Pemerintah Swedia memutuskan untuk mengubah arah sistem pendidikan dengan kembali memperkenalkan buku-buku cetak di ruang kelas.
Sejak 2022 hingga 2025, pemerintah menginvestasikan 104 juta Euro atau Rp 1.748.167.200.000 untuk menyediakan buku cetak bagi setiap siswa untuk setiap mata pembelajaran.
Anggaran tersebut juga akan mendukung kampanye kesadaran dan membantu sekolah selama masa transisi.
“Langkah ini adalah tentang menemukan keseimbangan,” kata Menteri Pendidikan Lena Johansson.
“Kami tidak meninggalkan perangkat digital sepenuhnya, tetapi memastikan bahwa perangkat tersebut melengkapi, bukan menggantikan aspek dasar pembelajaran," imbuh dia.
Keputusan tersebut menjadi refleksi bahwa teknologi memiliki kelebihan, tetapi metode pengajaran tradisional sangat penting untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman.
Dengan kembali menggunakan buku cetak, Pemerintah Swedia berharap dapat membangun kembali keterampilan belajar dasar sambil terus menggunakan alat digital sebagai nilai tambah siswa.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Swedia Anggarkan Rp 1,7 Triliun untuk Kembalikan Sistem Pendidikan dari Komputer ke Buku Cetak", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2025/01/16/164500965/swedia-anggarkan-rp-1-7-triliun-untuk-kembalikan-sistem-pendidikan-dari
Pemerintah Swedia memutuskan untuk kembali ke buku cetak setelah 15 tahun menggunakan perangkat laptop untuk pembelajaran siswa.